Halloween Costume ideas 2015

Prinsip Dasar Etika Kristen


Beberapa prinsip dasar Etika Kristen yang membedakan konsep etika Kristen dari konsep etika kepercayaan lain, adalah sebagai berikut.

1. Etika Kristen adalah Kehendak Allah
Etika Kristen merupakan salah satu bentuk sikap yang diperintahkan oleh dan dari Allah sendiri, sehingga kewajiban etis merupakan hal yang harus dilakukan manusia. 

Kewajiban etis ini adalah merupakan ketentuan atau perintah etis yang diberikan Allah sesuai dengan karakter moral-Nya di dalam pribadi Yesus Kristus. Allah menghendaki apa yang benar dan yang sesuai dengan sifat-sifat moral-Nya sendiri. 

Seperti dikatakan bahwa “Jadilah kudus sebab Aku ini kudus” (Imamat 11:45); “Harus kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Injil Matius 5:48); “Allah tidak mungkin berdusta” (Ibrani 6:18); “Allah adalah kasih” (I Yohanes 4:16); “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Jadi etika Kristen didasarkan pada kehendak dari Allah dimana Allah sendiri tidak menghendaki apapun yang bertentangan dengan karakter moral-Nya yang tidak berubah.

2. Etika Kristen Bersifat Mutlak. 
Karena karakter moral Allah itu tidak berubah (Matius 3:6 dan Yakobus 1:17), maka kewajiban-kewajiban moral dari natur-Nya bersifat mutlak. 

Maksudnya kewajiban-kewajiban tersebut mengikat semua orang dalam keadaan apa saja. Apapun yang ditemukan dalam moral Allah yang tidak berubah, adalah juga satu kemutlakan moral. Termasuk di dalamnya kewajiban-kewajiban moral seperti kekudusan, keadilan, kasih, belas kasihan, dll.

3. Etika Kristen Berdasar Wahyu Allah
Etika Kristen didasarkan pada perintah-perintah Allah atau dengan kata lain berdasarkan wahyu Allah yang bersifat umum (Roma 1:19-20; 2:12-25) dan khusus (Roma 2:18;3:2). 

Allah yang adalah Maha Pencipta telah menyatakan diri-Nya sendiri—baik melalui alam (Mazmur 19:1-6) dan dalam kitab suci (Mazmur 19:7-14). Wahyu umum berisi perintah Allah bagi semua orang, tanpa terkecuali. Wahyu khusus untuk mendeklarasikan kehendak-Nya pada orang percaya. 

Tetapi dalam kedua hal itu, dasar dari tanggung jawab etis manusia adalah wahyu Ilahi. Manusia yang gagal mengenal Allah sebagai sumber kewajiban moral, maka dia tidak akan mampu untuk membebaskan siapapun juga dari kewajiban moralnya. 

Namun apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat—oleh dorongan dirinya sendiri melakukan apa pun yang dikehendaki hukum Taurat—walaupun dia tidak memiliki hukum Taurat—mereka telah menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat tertulis dalam hati mereka (Roma 2: 14-15).

5. Etika Kristen Bersifat Menentukan. 
Karena kebenaran moral yang telah ditetapkan Allah adalah juga kebenaran yang bermoral, maka etika Kristen haruslah dilaksanakan dengan bertanggungjawab dan apa adanya. 

Di sini tidak ada hukum moral tanpa pembuat undang-undang moral. Sebagaimana etika Kristen sendiri berdasarkan naturnya adalah preskriptif bukan deskriptif. Etika Kristen lebih berhubungan dengan apa yang seharusnya dilakukan dan bukan apa yang sebenarnya sedang terjadi. 

Jadi orang Kristen tidak akan menemukan kewajiban-kewajiban etis dalam standar orang Kristen, tetapi dalam standar bagi orang Kristen yang tertulis di Alkitab.

6. Etika Kristen adalah Deontologis. 
Sistem-sistem etis pada umumnya terbagi dua kategori, yaitu: (1) Deontologis (berpusat pada kewajiban); dan (2) Teologis (berpusat tujuan). 

Etika Deontologis (berpusat pada kewajiban) adalah hal yang sangat menentukan hasil, Peraturan adalah dasar tindakan, peraturan itu baik tanpa menghiraukan hasil, dan hasil harus diperhitungkan berdasarkan pada peraturan. 

Etika Teologis (berpusat pada tujuan) adalah hasil menentukan peraturan, sehingga hasil adalah dasar tindakan. Peraturan itu baik karena hasil, namun hasil kadang bisa melanggar peraturan.

Oleh: Abdy Busthan
Label:
Reaksi:

Posting Komentar

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget